Rabu, 22 September 2010

Fakta Ketimpangan Sosial

Kita tidak harus menjadi professor agar tahu di Indonesia terjadi banyak ketimpangan sosial. Kemiskinan adalah fakta, dikriminasi seperti matahari yang setiap hari selalu ada. Film “Denias” yang mengisahkan tentang kondisi masyarakat Papua bertutur lugas bahwa ketimpangan sosial di Indonesia ini bukanlah takdir, tapi sengaja diciptakan. Kita semuapun tahu disaat krisis moneter 1997, mayoritas masyarakat Indonesia kesusahan, PHK massal terjadi serentak dimana-mana, tapi ada juga kalangan minoritas yang tidak tersentuh, bahkan mensyukuti krisis moneter tersebut.
Ketimpangan sosial adalah fakta, sedangkan solidaritas sosial dan budaya saling menolong semakin menjadi mitos di negeri ini. Hal ini tercermin dalam kebijakan pemerintah menaikkan harga harga minyak goreng. Siapapun yang menggunakan akal sehat pastilah akan heran. Indonesia dengan ribuan hektar kebun kelapa sawit, tapi masyarakatnya mengalami kelangkaan minyak goreng. Seperti kita heran dengan kebijakan impor beras, padahal tanah negeri ini sangat subur. Artinya, pastilah ada yang salah dengan cara mengurus negeri ini
Sebagai kebutuhan fudamen bagi masyarakat. Kenaikkan harga minyak sangat terasa sekali. Masyarakat bukannya tidak berusaha, berbagai macam siasat sudah dilakukan. Cerita tentang digantinya beras dengan jagung adalah kenyataan yang dicertitakan, bahkan ada yang makan nasi aking. Untuk mensiasati kelangkaan minyak goreng masyarakat menggunakan pasir sebagai penggantinya. Hal ini menjadi luar biasa karena ditengah tragedi ini sebagian kelompok masyarakat malah hidup serba berkelebihan. Inikah yang kita sebut dengan budaya timur yang terkenal dengan solidaritas?
Kondisi seperti ini tidak boleh ditutup-ditutupi lagi. Anak-anak sejak sekolah dasar tidak cukup diberikan pelajaran sejarah saja, tapi mereka juga harus diberikan pengetahuan tentang kondisi sosial Indonesia. Minimal mereka tahu bahwa di Indonesia ada kemiskinan, ada diskriminasi, korupsi, dll. Sehingga sejak kecil mereka sudah tahu bahwa musuh bersama adalah kemiskinan, bukan lagi perbedaan. Selama ini anak didik hanya diajarkan bahwa mereka berbeda dan disatulah oleh bhineka tunggal ika. Tapi kita lupa persatuan juga membutuhkan musuh bersama seperti kemiskinan, diskriminasi, dll.
Mengenai kemiskinan, kita sudah sering mendengar istilah kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang dialami suatu kelompok masyarakat karena struktur sosial masyarakat tidak memberi kesempatan agar bisa terlibat dalam penggunaan sumber-sumber daya ekonomi atau modal lainnya. Bukti-bukti nyata dalam hal ini sudah banyak sekali. Sayangnya hal ini jarang sekali diberitakan secara massif. Televisipun lebih suka menampilkan sinetron yang bertolak belakang dengan realitas yang sesungguhnya.
Pemerintah juga terkesan tidak jujur. Hal ini tercermin dalam statement seperti “fundamen ekonomi kita sangat kuat”. Mahasiswa semester I saja bisa mengkritik, tidak mungkin ada ekonomi yang kuat diatas 45.7 juta orang miskin (BPS). Akan lebih arif jika semua ketimpangan sosial dibuka selebar-lebarnya, dibahas sesering mungkin. Karena keterbukaan akan kondisi sosial yang ada, akan semakin mendorong banyak pihak untuk terlibat menuntaskannya.
Sebab Perlahan masyarakat mulai masyarakat mulai sadar, bahwa bahwa yang menentukan kebijakan dibidang ekonomi pada hakikatnya adalah pasar, bukan pemerintah. Dalam berbagai aksi jalanan sudah terlalu sering diteriakkan tentang perselingkuhan Pemerintah dengan Pasar atau modal international. Kenaikkan harga BBM adalah karena pasar, demikian juga dengan minyak goreng. Sekarang tergantung kepada Pemerintah, apakah selamanya akan mengabdi untuk kepentingan Pasar?, atau kembali kepada amanat penderitaan rakyat (Ampera).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar